Showing posts with label Miki Art. Show all posts
Showing posts with label Miki Art. Show all posts

Wednesday, September 25, 2013

New Pict with new media

Hai minna, miki kembali ;) hari ini miki mau posting gambar lagi [bosen woy] oh iya medianya beda loh biasanya manual sekarang agak modern pake digital, ngga kudet *nari nari* memang belum bagus tapi aku harus terus meningkatkannya.

POSE FOTO KTP

jaa ne selamat ketemu miki di postinga lain waktu, terakhir aku ucapkan ARIGATOU udah mau lihat lihat blogku :3

Read More......

Friday, September 28, 2012

New Picture :D

Hai minna, ketemu lagi sama miki, udah lama aku nggak pos ya. Ini gambar ngarangku beberapa hari lalu. semoga suka :D

 

Read More......

Sunday, June 17, 2012

Tuesday, June 5, 2012

Profesional-fanfic

--Profesional--
Disclaimer:
Naruto © Om Masashi Kishimoto lah, siapa lagi coba
Story © Miki-desu
Warning:
OOC, Typo’s, SemiCanon*maybe, abal, aneh, etc
Rate:T aja
Genre:Romance
.

“Lihat Shikamaru tidak?” Gadis cantik bermarga Yamanaka itu bertanya pada dua shinobi dengan satu anjing yang dia kenal-tidak juga sih sebenarnya. Dua shinobi itu-Kiba dan Shino hanya menggeleng tak tahu.
“Sepanjang perjalanan, kami tidak melihat pemuda malas itu dan aku tidak ingin bertemu dengannya,” ujar Kiba sarkatik. Ah, sepertinya penolakan tempo hari dari Ino masih berbekas di hati pemuda bertato segitiga ini. “Eh! Ya s-sudah, arigatou.” Kaki jenjang milik Ino kembali melangkah cepat, menapak jalan panjang desa. Meninggalkan kedua pemuda dengan satu anjing itu, yang tanpa sepengetahuannya terus saja memerhatikan kepergiannya.
Kiba memegang bagian dadanya yang terasa sakit, meremasnya seraya bergumam pada sahabatnya yang berada di sampingnya, “Kalian lihat, dia tak peduli padaku, tapi bisa-bisanya aku suka padanya.” Pemuda yang berada di sampinya hanya bisa menenangkan dengan menepuk pundak Kiba. Dan jangan tanya apa yang di perbuat oleh anjing besar yang bernama Akamaru itu, dia terus saja menggonggong tanpa kenal lelah.
.
Setapak demi setapak aku lewati sembari terus bertanya pada orang-orang dimana keberadaan pemuda nanas dengan wajah malas itu, padahal aku sudah menelusuri desa yang-oh kami-sama-besar, dan aku juga harus menerima kata sarkatik dari Kiba yang tempo hari kutolak. Hasilnya, nihil. Aku ulangi NIHIL. Tak ada satupun orang yang tahu keberadan orang itu. Begitulah Shikamaru, dicari tak ada, tak diperlukan malah muncul. Mungkin itu sesuatu yang harus aku terima karena sudah berani memacarinya.
Ya, kami sudah jadian beberapa minggu lalu dan hanya sedikit yang tahu. Hanya sahabatku, Sakura dan Chouji serta orang tua kami dan orang tua Chouji. Ayahku yang tahu saat aku jadian dengan Shikamuru langsung tersenyum senang dan terus saja memelukku. Hah, mungkin karena harapannya terwujud. Dulukan dia pernah memerintahku untuk menikah dengan salah satu dari teamku, Chouji dan Shikamaru. Yang kupilih Shikamaru, tapi entah dia mau menikah denganku atau tidak. Tapi aku sungguh-sungguh cinta padanya. Dan karena hanya sedikit yang tahu, Kiba masih mengharapkan cintanya diterima olehku.
Tubuhku menghentikan kakiku untuk berjalan saat aku sampai di padang rumput yang luas. Diikuti angin yang menerpa tubuhku dan menerbangkan rambutku pelan. Mata aquamarine-ku menatap objek di depanku. Seorang pemuda dengan rambut nanas tengah memandang awan sembari berbaring di padang rumput. “Shikamaru!” seruku seraya berlari kearahnya. Dia hanya memincingkan matanya sebentar, kemudian kembali memandang awan. “Ternyata kau disini! Aku mencarimu tahu!” seruku lagi dengan volume kencang, sesaat setelah aku berada tepat di sebelahnya. Dia bangkit dan terduduk masih dengan posisi yang sama seraya menggumamkan kata kesukaannya ‘Merepotkan’. 
.
Ino terus berteriak menghakimi Shikamaru yang sedari tadi menutup telinganya. “Merepotkan.”Pemuda nanas itu bangkit dari posisi tidurnya. Dengan cepat dia meraih lengan putih milik Ino dan menariknya mendekat.
“KYAAA!”Seketika, Ino berteriak kaget. Tapi sedetik kemudian, dia diam. Karena posisinya yang terlalu dekat dengan wajah Shikamaru, tinggal beberapa inci lagi bibir mereka bisa bertemu. Panas, wajahnya terasa panas dan jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya.
“Akhirnya diam.” Sebuah senyum kecil terpatri di bibir Shikamaru. Ternyata caranya berhasil. “Kenapa mencariku, hah-Merepotkan.”Tubuhnya kembali ia jatuhkan di rerumputan hijau itu. Ino yang melihatnya menggembungkan pipi putihnya. Merasa upayanya tak berguna.
“Tsunade-sama memerintahkan aku untuk memanggilmu ke kantor Hokage, karena kau harus men-”
“Menjemput Temari ‘kan?” Gadis pirang itu tertegung. Yeah, perkataan Shikamaru memang benar, Shikamaru memang di perintahkan untuk mengawal kunoichi asal Suna itu. “Aku sudah dua kali di panggil olehnya untuk misi itu.” Dahi Ino seketika mengerut. Ya, dia tak mengerti kenapa Tsunade-selaku Hokage, memerintahnya untuk memanggil Shikamaru padahal yang bersangkutan sudah tahu.
“Lalu, kenapa kau tak menjalankanya. Kan aku jadi tak perlu repot-repot mencarimu keliling desa,” cecar Ino tidak terima atas sikap Shikamaru yang sepertinya tak peduli. Bukannya dia tak mau mencari kekasihnya yang begitu menyebalkan ini, tapi saat ini dia juga ada misi untuk ke rumah sakit.
“Aku tidak mau kau cemburu karena aku bersama wanita lain, aku malas menghadapimu.” Jujur saja, Shikamaru tidak mau menghadapi gadis pirang itu yang nantinya akan marah-marah tak jelas di depannya seperti kerasukan Kyuubi milik Naruto. Sungguh itu sangat merepotkan-menurut Shikamaru. Setelah mendengar pernyataan Shikamaru, Ino langsung tertawa keras. Melepas semua predikatnya yang selalu disebut feminim. Salah satu alis coklat Shikamaru naik, pertanda kalau dia tidak mengerti.
“Hahahaha, kau haha. Kau itu lucu sekali hahaha.” Sambil terus memegangi perutnya Ino berusaha mengendalikan tawanya yang mungkin akan semakin meledak kalau tidak ditahan. “Ehem, mana mungkin aku akan cemburu. Aku juga bisa profesional Shikamaru. Kau melakukan itu karena alasan bekerja bukan, kenapa aku harus marah padamu?” lanjutnya. Dia tahu mengapa Shikamaru melakukannya, agar dia tak salah paham. Tapi dia juga tahu kalau dia tak ada hak untuk mengatur Shikamaru.
Semua orang tahu kalau otak milik pemuda nanas itu begitu pintar, sampai-sampai tak ada orang yang bisa menyainginya, apalagi pada bidang strategi. Tapi ada satu hal yang bisa membuat otaknya tak bisa bekerja, yaitu jika berbicara soal perempuan. Otaknya pasti tidak akan bekerja. Dan itu terjadi saat ini. “Ya sudah kalau itu maumu aku akan pergi, hoam.” Shikamaru kembali terbangun kali ini seraya menguap dan bersiap untuk pergi. Tapi sebelum dia pergi, pergelangan tangannya sudah di tahan oleh sebuah tangan putih. “Apa lagi?”
“Kau tega sekali meninggalkanku sendiri, kau itu tak tahu terima kasih.” Bibir kecil Ino mengerucut sebal. Shikamaru yang melihatnya, hanya berdecit kecil, lalu dengan begitu ringan dia menarik tangan Ino yang membuat Ino bangkit dari posisi duduknya.
Cup
Arigatou, Shika-kun
Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi pemuda pemalas itu, membuat Shikamaru mengalihkan pandangannya pada Ino yang berjalan mendahuluinya. Dia pun mengejarnya, dengan cepat dan sigap ia meraih dagu mulus Ino lalu menciumnya tepat di bibir tipis Ino. Shikamaru mengubah posisi tangannya yang yang semua berada di dagu Ino. Melingkarinya di pinggang milik gadis pirang itu agar bisa leluasa mengatur pergerakan Ino. Ino pun sama, hanya saja di leher si Nanas. Selama beberapa menit ciuman itu bertahan. Padahal baru pertama kali mereka melakukannya tapi seperti sudah menguasainya.
+---Owari---+
Dua muda-mudi ini terus berjalan melewati pertokoan yang berjajar rapi di tepi jalan. Mereka berjalan seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa. Padahal baru saja kejadian romantis terjadi. Ino memandang heran Shikamaru yang saat ini tengah berjalan bosan dengan kedua tangan di belakang kepala. “Kenapa?” ujar Shikamaru yang melihat keanehan gadis pirang itu.
“Em tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Pandangan Ino kemudian beralih ke depan dengan dagu yang sedari tadi dia garuk(?). “Shikamaru, apa yang akan kau lakukan jika aku mendapat misi dengan Sai?” tanya pada Pemuda berambut kecoklatan itu. Dia tahu betul kalau Shikamaru sangat, sangat tidak suka jika Ino berdekatan dengan Sai. Karena dulu pernah ada masalah kecil dengan pemuda berkulit pucat itu.
“Aku akan bertindak sama denganmu, aku juga harus profesional bukan?.”
“Kalau misinya itu-
menikah dengannya bagaimana?” Seketika dahi Shikamaru muncul perempatan yang mengartikan dia marah. Tapi jika dipikir lagi, mana mungkin ada misi seperti itu. Baiklah Shikamaru, sepertinya kau memang tidak sepenuhnya pintar.
+---Zutto Owari---+
01 Mei 2012, 08:30 PM

Read More......

Friday, February 24, 2012

Gambar G-A-J-E



Huh, gambar entah keberapa, gomen kalo akhir-akhir ini Miki cuma ng-upload  gambar. Lagi nggak ada pencerahan buat ngepost yang lain. Semoga suka aja deh ^^

Read More......

Sunday, February 5, 2012

Gambar gaje 'Heh, B-A-K-A'

 
Post gambar entah keberapa, pokoknya ini dibuat saat aku lagi belajar. Tanpa nyontek
menurut kalian namanya siapa?

Read More......

Sunday, January 22, 2012

Haruno Sakura-Gambar nyontek


Haruno Sakura
UPLOAD lagi, 
gambar Miki yang ke 4 kayaknya yang di upload di blog ini, nyontek hape pas lagi boring di lab TIK, 
Tinggalkan komen anda di sini

Sign:
Miki Akira

Read More......

Nagi Senzanin- gambar nyontek



Hi, minna. ketemu lagi sama Miki.
Kali ini Miki buat gambar baru lagi nih, nyontek sih. Tapi bukan itu yang buat jadi gambar ini menarik. 
Miki nggambar ini pas pelajaran kosong. Ngegaje gitu. Charanya namanya Nagi Sanzenin dari Anime-manga Hayate no Mago... Tinggalin concritnya buat aku ya. Arigatou Minna ^^

Read More......

Wednesday, November 30, 2011

Feel so good (Chap 1)

Disclaimer   : Naruto, Masashi Kishimoto sampai waktu yang tidak di tentukan.
Warning       : AU, Miss Typo, OOC, dan teman-temannya.
Rate               : K+-T
Genre           : Friendship/Romance again. *readers ngibrit pergi.
Summary     : Mata yang tidak asing tapi aku tidak bisa mengingatnya. Apa dia… /summary gaje/second fic/ please RR and concrit oke (>_- )

Tenten POV.
Open my eyes in the morning and I see the sunshine
Rubbing my eyes because of the sunlight
Showertime, to shake off the sleep

Cleaning the grudges
Ringing sound of the streets
Feel so good feel so good all my life

Musik mengalun indah dari ipond milikku, lalu mengalir melalui kabel headset yang sengajaku pasang.  Aku bergumam kecil mengikuti lagu yang merupakan salah satu lagu  kesukaanku. Lagu ini selalu memberiku semangat disaat aku memang sedang membutuhkannya. Membuatku sedikit lebih tenang saat aku marah. Berhenti menangis disaat aku sedih. Lagu ini sudah seperti bagian dari diriku yang hilang.
Aku berlari-lari kecil menuju balkon kamar sambil terus bersenandung, terlihat taburan bintang memenuhi langit malam dengan ditemani sang bulan yang bersinar bak ratu yang menguasai langit. Aku tersenyum, hanya senyum kecil. Entah mengapa aku merasa besok atau nanti akan terjadi sesuatu yang akan membuaku tersenyum. Tapi aku tidak tahu apa.
Tiba-tiba ipondku bergetar, ada pesan rupanya. Aku membuka pesan itu yang ternyata dari Neji, teman lamaku sewaktu SMP. Apa bisa di sebut teman lama? Aku baru saja lulus 1 bulan lalu dan kurang dari 1 minggu lagi aku akan masuk SMA yang sama dengannya. Sepertinya sebutan itu terlalu dini untukku ya.
From     : Neji ‘Cinderella’
To           : Tenten
‘Konbawa Tenten, belum tidur?’
Aku tertawa kecil, seperti biasa Neji mengirim pesan selamat malam padaku. Aku bisa menebak kalau dia tidak bisa tidur lagi atau biasa disebut insomnia, setiap malam Neji selalu mengirimi pesan untuk menemaninya begadang dan aku selalu membalasnya. Dan akan berakhir jika salah satu dari kami kehabisan pulsa atau sudah sangat mengantuk.
Aku menekan beberapa tombol, dan munculah sekumpulan kata yang barusan aku tulis.
To           : Neji ‘Cinderella’.
From     : Tenten.
“Konbawa Neji, terkena penyakit insomnia lagi, eh?”
 Aku mengirim pesan itu. Beberapa detik kemudian, ipondku kembali bergetar.
From     : Neji ‘Cinderella’.
To           : Tenten.
“Tahu saja kau, sedang apa?”
To           : Neji ‘Cinderella’.
From     : Tenten.
“Sedang menemanimu begadang, hehe. Bagaimana kalau kita bicara di telpon saja, aku sedang banjir pulsa nih.”
From     : Neji ‘Cinderella’.
To           : Tenten.
“Boleh, kau yang telpon aku yah?.”
Aku kembali tertawa. ‘Ya iyalah, tadikan aku sudah bilang kalau aku sedang banjir pulsa, dasar Neji.’ Gumamku. Tanpa membalas pesannya aku langsung menelponnya. Terdengar suara kecil setelah beberapa detik aku menekan nomor telpon Neji.
“Moshi-moshi.” Sekarang terdengar jelas suara yang sudah sebulan ini tidak aku dengar.
“Moshi-moshi Neji-chan.” Godaku. Aku ingatkan kalau Neji itu mirip seperti anak perempuan, rambut panjang dan orangnya lemah lembut semakin menambah kesal perempuan didirinya, walaupun jika sedang dengan orang selain aku sifatnya berubah menjadi orang sok cool sedunia.
“Jangan panggil aku dengan nama itu, Tenten-kun.” Teriaknya, lalu menggerutu tidak jelas. Karena aku tidak dengar dia bicara apa.
“Iya-iya maaf.” Aku meminta maaf sambil terus tertawa. Kebiasanku untuk menggodanya tidak bisa aku tahan. Ya, aku memang teman dekat Neji sejak SMP dan dia sudah aku anggap Kakak. Dia Kakak terbaik, itu menurutku. “Jadi, sedang apa kau?”
“Sedang menjawab telponmu.” Oke dia mulai menjiplak kalimatku.
“Heh, aku serius Neji.”
Dia tertawa. “Hey jangan ngambek. Iya, aku sedang membaca buku.” Ucapnya.
.
Dua jam aku bercakap-cakap berbagai topik dengan Neji, tidak aku sangka selera humornya tinggi juga aku sampai tertawa terpingkal-pingkal saat mendengarnya. Dua jam pula untukku bisa membuat Neji mengantuk, biasanya aku membutuhkan tiga atau empat jam agar dia bisa tidur. Dan pulsaku masih utuh, love you God. Kalian tahu aku ngobrol dengan Neji tanpa mengurangi pulsaku karena aku ikut paket.
Huft, akhirnya aku bisa tidur lebih awal dari biasanya. Dasar Neji kerjanya hanya mengurangi jam tidur orang saja, tapi aku senang bisa membantunya. “Sebaiknya aku cepat tidur, mumpung sedang bisa tidur awal.” Seruku. Beberapa menit kemudian aku sudah masuk ke alam mimpi.
.
~~~(---d(^_^)b--)~~~
.
Arloji ditanganku sudah menunjukan pukul 10 pagi. ‘Kenapa dia belum datang-datang juga?’. Umpatku dalam hati. Yah, sekarang aku sedang menunggu seseorang yang mengajakku datang ke kafe langganan kami. Entah apa yang direncanakannya, mungkin hanya untuk menyapa. Aku tak tahu. Tapi aku sudah menunggunya selama 30 menit, dan batang hidungnya belum juga muncul. Aku adalah orang yang tidak bisa menunggu, paling lama aku akan menunggu 20 menit lalu pergi. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku masih menunggunya. Jawabannya hanya satu. DIA YANG MENYURUHKU MENUNGGU.
“Tenten hosh… maafkan aku… hosh.” Teriak seseorang dari ambang pintu masuk kafe. Gara-gara aksinya itu semua orang melihatku dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi tak lama kemudian mereka kembali keaktifitas masing-masing. ‘Akhirnya datang juga.’ Gumamku. Aku bangkit dari kursi yang sempat aku duduki 35 menit lalu. Lalu memandang horror anak yang tadi memanggilku, dia hanya nyengir tanpa dosa. Cih, menyebalkan. Dia menghampiriku yang berada di pojok kafe dekat jendela besar dengan berlari kecil.
“Maaf Tenten aku terlambat, tadi aku tidak sengaja bertemu Ino dan dia memberitahukanku sesuatu.” Ucapnya. Dia, Haruno Sakura teman SMP sekaligus SMA-ku besok. Dia anak yang cerewet, tapi kadang bijak. Berwajah cantik, stylish, punya warna rambut yang berbeda dengan yang lain ‘Pink’,  juga kaya. Setiap laki-laki pasti tertarik akan kecantikannya dan yang perempuan pasti akan iri jika melihatnya. Akupun tidak memungkiri kalau dia memang cantik.
“Tidak apa, jadi sebenarnya apa tujuanmu memanggilku kesini.” Tanyaku ketus.
“Hahaha, sabarlah sedikit Tenten, kita saja belum saling menyapa.” Baiklah dia menjadi semakin menyebalkan saja. “Sebenarnya tadi aku ingin berbincang-bincang saja denganmu, tapi sepertinya ada yang lebih penting dari itu.” Lanjutnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop yang akupun tidak tau isinya apa. Dan memberikannya padaku, aku mengangkat sebelah alisku. Apa maksudnya ini?
“Apa maksudmu Sakura.”
“Ini untukmu Tenten nanti malam ada pesta dirumah Ino jam 8 malam, kau datang ya.” Sudah kuduga dia mengajakku untuk melakukan kegiatan yang membosankan. Aku hanya tersenyum lalu menyerahkan kembali amplop berisi undangan mungkin.
“Terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya aku tidak bisa Sakura.”
“Ayolah Tenten, satu kali ini saja.” Dia mengeluarkan puppy eyes-nya kearahku. Heh, dia itu tahu saja kalau aku lemah akan tatapan seperti itu. Karena sudah tidak tahan akan tatapanya, akhirnya aku menyetujuinya. “Nah gitu donk,”
“Kalau begitu ambil kembali amplop ini, dan ikut denganku.” Lanjutnya. Setelah aku mengambil amplop itu aku diseretnya keluar kafe. Mau dibawa kemana aku oleh gadis pink ini. Gumamku.
Normal POV
Sakura terus berjalan mencari toko yang dituju sambil menyeret Tenten yang hanya pasrah ditarik Sakura. Sampai akhirnya dia sampai di depan butik langganannya. Dua orang tersebut masuk ke dalam butik, disambut oleh dua pelayan yang memang sedari tadi stand by di depan pintu butik. Mereka memberi salam dengan membungkuk.
“Ada yang bisa saya bantu Nona.” Kata salah satu pelayan.
“Bisa salah satu dari kalian membantu temanku ini, dia ingin memilih gaun untuk pesta.” Ujar Sakura sambil menunjuk Tenten, Tenten hanya bisa tersenyum paksa. Dalam hati dia ingin mencincang Sakura yang berkata tanpa memberi tahu Tenten terlebih dahulu.
“Tentu, mari ikut saya.” Pelayan itu mempersilahkan. Tenten tetap tidak bergerak, diam di tempat dia berdiri.
“Cepat sana.” Sakura mendorong tubuh Tenten yang untungnya tidak membuat keseimbangannya goyah.  
“Kau ini menyebalkan sekali Sakura.” Gumam Tenten yang bermaksud memarahi Sakura, tetap saja Sakura tak peduli. Akhirnya dengan SANGAT terpaksa Tenten berjalan mengikuti sang pelayan. Sakura yang melihatnya tertawa kecil. Sakura kau memang manusia paling kejam di dunia, tertawa di atas penderitaan orang lain menggunakan tampang watados pula. Ckckck.
Oke bek tu stori…
“Bisa tolong aku juga.” Perintah Sakura. Pelayan yang satu tersentak kaget, sepertinya sedari tadi dia melamun.
“I, iya.” Ucapnya terbata-taba. Mereka lalu pergi kebagian sepatu yang berada di bagian belakang toko.
.
Sakura sibuk dengan kegiatan gajenya yaitu memilih sepatu, tapi berbeda dengan Tenten. Dari tadi dia malah menatap bosan sang pelayan yang mondar-mandir memilihkannya gaun.
“Bagaimana dengan ini Nona.” Tawar sang pelayan. Terlihat dress hijau lumut selutut tanpa lengan dengan lipit di bawahnya membuatnya terkesan lebih mengembang, tak lupa pita sedang di bagian perut. Simple tapi elegan. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menjelaskan dress hijau selutut itu. Tak sengaja, Sakura melihat gaun itu. Wajahnya berubah menjadi berseri-seri.
“Tolong bungkuskan untuk dia ya.” Seru Sakura mengagetkan sang pelayan dan tentu saja Tenten, tapi sedetik kemudian si pelayan mengangguk dan pergi untuk membungkuskan gaun itu. Tenten yang masih bingung dan kaget di tempat hanya mengusap dadanya.
“Sakura kau ini mengagetkan saja. Satu lagi, kenapa kau membungkuskan gaun itu? Aku saja belum bilang ‘iya’.” Tuturnya panjang lebar kepada Sakura.
“Piss Ten, hehehe. Lagian kau ini lama sekali memilih gaun.”
“Sudah tahu begitu kenapa tetap memaksaku datang ke pesta Ino.” Protesnya tidak mau kalah.
“Aku ingin melihatmu tampil feminim Tenten.” Ungkap Sakura dengan muka lesu. Selama ini Tenten memang tidak pernah  terlihat melepas kedua cepol panda miliknya, apalagi menghilangkan sifatnya yang memang tomboi sejak lahir.
Tanpa Sakura ketahui Tenten sering melepas cepolnya jika di rumah, menggantinya dengan kepang dua, menguncir kuda atau menggerainya. Tapi sayang Sakura tidak tahu semua itu.
“Heh, baiklah terserah kau saja Sakura.” Sakura tersenyum. Senyum kemenangan tepatnya.
“Aku belum dapat gaun nih, jadi tunggu aku ya.” Sakura kembali memilih gaun setelah mendapat anggukan dari Tenten. Dia senang, akhir-akhir ini Tenten bisa luluh akan perkataannya, padahal dulunya dia sangat susah ditaklukan. ‘Apa ini ada hubungannya dengan Neji-kun.’ Pikir Sakura.
Tenten kembali terdiam menunggu, dilihatnya sekeliling terdapat banyak pasang baju disana-sini. Pandangannya terkunci saat melihat rak sepatu. Di rak itu terdapat barang yang selama ini diinginkan Tenten, sneakers putih dengan motif hijau. Sebenarnya sudah sejak lama dia menginginkan benda itu, sayangnya dia belum sempat pergi ke toko untuk mencarinya. Sekaranglah dia baru bisa pergi. ‘Ternyata pergi dengan Sakura memberi keberuntungan juga.’ Batinnya.
Diapun segera menghampiri rak sepatu yang tidak jauh dari tempat dia menunggu, diambilnya sneakers putih itu.
“Geerrpp”
‘Akhirnya aku mendapatkanya juga, tunggu tangan siapa ini.’ Gumamnya penasaran. Dia memandang sang pemilik tangan kekar yang juga mengambil benda yang sama dengan Tenten. Pemuda berkacamata, berambut raven dengan mata onyx hitam yang tengah memandang sang pemilik mata hazel itu. ‘Aku seperti tidak asing dengan mata onyx-nya.’
Selama beberapa detik mereka tertahan dengan posisi yang tidak bisa dibilang err… biasa. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan.
“Err… maaf bisa tolong lepaskan tanganku?” Ucap Tenten agak sedikit bergetar. Sang pemilik mata onyx itu tersadar, diapun segera melepas tangannya.
“Maafkan aku.” Kata Pemuda itu.
“Eh… iya tak apa, kau ingin mengambil ini?” Tanya Tenten lalu menunjukkan sneakers yang dipegangnya.
“Sudahlah itu untukmu saja, sebenarnya aku juga hanya ingin melihat.” Tuturnya.
“Begitu, jadi ini untukku.”
“Iya, silahkan itu untukmu saja.”
“Terima kasih ya.” Tenten tersenyum manis, membuat pemuda itu memunculkan sedikit goresan merah di pipinya. Walaupun tidak terlihat. “Kalau begitu aku pergi dulu, sekali lagi aku ucapkan terima kasih.” Lanjut Tenten lalu pergi dari hadapan pemuda itu.
“Darimana saja kau?” Tanya Sakura yang melihat Tenten berlari kearahnya.
“Dari rak sepatu yang ada disana?” Tenten menunjuk-nunjuk rak sepatu yang baru saja dia kunjungi (?). “Dan aku menemukan ini.” Dia memperlihatkan sneakers putih di tangannya.
“Kau ingin membeli ini, tapi kaukan belum punya…”
“Aku punya sepasang high heels, tenang saja.”
“Ya sudah.”
“Kau sudah menemukan gaunnya.”
“Hm, ayo ke kasir.” Dua gadis ini melangkah menuju kasir dekat pintu masuk butik. Setelah membayar belanjaan mereka lebih tepatnya belanjaan Sakura karena Tenten hanya beli sneakers, sedangkan dress-nya dibelikan Sakura. Mereka pergi dari butik itu.
“Aku ingin pulang Sakura, kau tidak apa-apakan kalau aku tinggal.” Ucap Tenten menyesal.
“Iya tidak apa Tenten, aku juga sedang menunggu Ino.”
“Baiklah Sakura, aku pergi dulu ya. Ah iya, terima kasih untuk dressnya.”
“Sama-sama Tenten, nanti aku jemput jam 19.30 di apartemenmu ya.” Tenten menangguk lalu masuk ke dalam taksi. Tanpa mereka ketahui pemuda yang bertemu Tenten tadi memperhatikan mereka sambil tersenyum walau hanya senyum kecil.
“Kau sedang lihat apa?” Kata wanita paruh baya dengan rambut hitam panjang sepunggung.
“Tidak sedang lihat apa-apa Kaa-san.” Jawab sang pemuda.
“Ya sudah, kalau begitu.” Dia kembali melihat ke arah luar butik, memastikan kedua gadis yang diperhatikannya sudah pergi.
‘Masih seperti dulu.’ Batinnya. Lalu menyusul Ibunya yang sedang memilih baju.

Read More......

Wednesday, November 2, 2011

Three Forces

Kekuatan misterius, surat dimensi, sekolah sihir, dan perpisahan/Continue or del. RnC, Oke

Disclaimer: Naruto, Masashi Kishimoto

Warning: Semi-Canon *Maybe*, OOC, Typo etc

Rate: K+ - T

Genre: Friendship/Fantasy/Adventure/Romance

Summary: Kekuatan misterius, surat dimensi, sekolah sihir, dan perpisahan/Continue or del.

“Kau menyebalkan sekali Naruto,” seru gadis bermata emerald kepada pemuda di sebelah kirinya. Pemuda yang berada di samping kirinya itupun menundukkan wajah tampannya, rambut kuningnya yang tertiup angin melambai-lambai tak beraturan. Sebenarnya, gadis itu tengah duduk di antara dua pemuda dengan wajah diatas rata-rata. Selain pemuda tadi. Terdapat pula di samping kanannya pemuda dengan mata onyx-nya yang tajam dan rambut pantat ayamnya tengah memandang bosan kedua kawannya yang bertengkar tidak jelas.
“Gomen Sakura, aku tidak bermaksud melakukannya.” Pemuda itu meminta maaf, tapi sepertinya tidak ditanggapi oleh gadis berambut soft pink disampingnya itu. Gadis itu mengerucutkan bibirnya seraya memalingkan muka ke arah pemuda yang satunya. Berharap sang pemuda dengan rambut seperti pantat ayam itu membelanya. Sayangnya, pernyataannya salah. Pemuda yang ada di sampingnya malah tidak bergeming. Pemuda itu malah menutup matanya rapat-rapat dan melipat tangannya di depan dada. Setelah itu, berpura-pura tertidur, mungkin berusaha untuk tidak ikut campur.
Gadis itupun kesal. Dan memutuskan menyelesaikan masalahnya sendiri. “Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.” Gadis itu, sebut saja Sakura mengarahkan telunjuk kanannya kepada pemuda berambut jabrik di sampingnya. Pemuda bernama Naruto itupun memancarkan wajah yang berbinar, dia mengira bahwa meminta maaf kepada Sakura hal yang mudah, semudah berjalan diatas lantai [?]. “Kau harus menjadi maid-ku selama seminggu dan apapun yang aku minta harus kau turuti.”
Tubuh Naruto kembali lemas, dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini setelah apa yang dia lakukan beberapa menit lalu kepada Sakura. Membayangkan menjadi maid Sakura. Baju pelayan aksen hitam-putih, rok mini, bandana berenda. MENGERIKAN. Teriaknya dalam hati. Sebelum ini, dia memang pernah menjadi maid Sakura. Dan itu sangat-sangat tidak menyenangkan, dia serasa bagai di neraka. Jadi untuk saat ini dan seterusnya dia tidak ingin menjadi maid Sakura lagi.
“Ada yang lain?” Sakura menggeleng, pendiriannya sudah tetap. Dia akan menghukum Naruto dengan cara ini. “Aku mohon, please jangan pakai cara itu.” Naruto berlutut wajahnya memelas bagai kucing kecil yang tak berdosa [?]. Melihat tampang Naruto yang errr… seperti itu, membuat Sakura iba. Dia mengingat-ingat kembali perlakuannya saat Naruto menjadi maid-nya dulu. Berawal dari Sakura menyuruh Naruto menggunakan Pakaian pelayan WANITA sampai menyuruhnya melakukan hal-hal aneh lainnya.
“Baiklah Naruto aku mengampunimu.” Naruto bernafas lega, dalam hati dia jingkrak-jingkrak senang. “Tapi aku akan tetap menghukummu.” Lanjutnya. Naruto mengangguk mengerti, asalkan bukan menjadi maid semua tidak masalah baginya.
“Terima kasih Sakura, kau memang baik.” Naruto merentangkan tanganya ke samping, hendak memeluk Sakura. “Ehem.” Terdengar deheman dari samping Sakura. Menjadikan Naruto yang hendak memeluk Sakura menghentikan gerakannya. “Hahahaha, aku lupa,” ucap Naruto dengan tawa yang dibuat-buat. Oke, dia lupa kalau pemuda Uchiha yang sering dia panggil “Teme” itu berada di samping Sakura. Mencegahnya untuk melakukan sesuatu kepada gadis pinkers di sebelahnya termasuk memeluknya tanda persahabatan.
“Hn.” Dua konsonan itulah yang meluncur dari mulut sang Uchiha bungsu. H dan N singkat, padat, dan terkadang tidak jelas. Entah atas dasar apa dia menjadikan kata itu kata andalan.
Bippp… Bippp
Terdengar suara aneh dari saku celana Naruto yang diketahuinya berasal dari ponsel miliknya. Naruto melirik nomor yang tertulis di layar ponselnya. Lalu menekan tombol hijau [?]. “Moshi-moshi,” ucapnya kepada orang yang menghubunginya. “Aku akan segera kesana,” lanjutnya. Dia menutup teleponnya, memasukan kembali ponsel flip orange ke saku celana selututnya.
“Eh, sepertinya aku harus pergi.” Dia tersenyum. Menampakan deretan giginya yang rapi dan putih. “Kau berniat lari Naruto,” tuntut Sakura. Naruto kembali tersenyum, “hukuman itu nanti saja, aku harus cepat menjemputnya.” Naruto berlari meninggalkan Sasuke dan Sakura.
Siapa ‘nya’ itu? Sakura berpikir, memutar otak pintarnya yang kali ini sedang rusak sehabis memarahi Naruto dengan panjang kali lebar. “Sasuke?” Sakura mendekatkan kepalanya ke wajah Sasuke dengan tanda tanya besar di atas kepala pinknya.
“Hm, apa Sakura?” Sasuke memandang Sakura dengan mata kirinya yang sebelumnya tertutup. Wajah mereka cukup dekat sehingga nafas satu sama lain bisa mereka rasakan. “Jangan menatapku seperti itu Sakura.”
Sakura kembali ke posisi semula.“Aku hanya ingin bertanya,” gumam Sakura.
“Tanya apa?”
“Tidak jadi!” Sakura membuang muka lalu bangkit dari bangku taman itu. Sebelum langkah pertama dihentakkannya ke tanah, tangannya terlebih dahulu digenggam oleh Sasuke. Dia memutar kepalanya ke samping, berniat memarahi sang Uchiha. Sedangkan Sasuke, dia memasang muka malas ke arah Sakura. Tanpa melepas genggamannya dia menarik Sakura kembali duduk di bangku taman itu. “Apa yang kau lakukan Sasuke!” Ubun-ubun Sakura terasa ingin meledak akibat perlakuan Sasuke yang seenaknya. Bukannya Sasuke sudah tahu kalau dia marah akan bagaimana.
“Katakan!” paksa Sasuke. Dia paling tidak suka jika ada orang yang tidak jadi mengatakan ‘sesuatu’ kepadanya, itu membuat rasa penasaran dihatinya menyeruak keluar ingin segera mengetahui ‘sesuatu’ itu. Sasuke memincingkan mata obsidian-nya ke arah Sakura seolah berkata ‘Ayo cepat katakan’. Sakura menunduk, takut akan tatapan Sasuke yang begitu tajam.
Setelah keberaniannya cukup dengan berat hati dia mengatakan, “emmm, memangnya Naruto mau menjemput siapa?” ia bertanya dengan wajah innocent menambah kesan imut terhadapnya yang mempunyai sifat lugu serta polos. Dan secara tidak langsung membuat goresan merah kecil di wajah tampan Sasuke.
“Eh-hnn, aku tidak tahu.” Getaran suara Sasuke yang ‘memang’ dibuat dingin anehnya masih bisa membohongi Sakura yang memang pada dasarnya polos. Sakura pun mengangguk mengerti, dia kembali bangkit dari kursi taman itu.
“Ayo pulang.” Digenggamnya tangan putih Sasuke, menariknya untuk berdiri tegak. Hangat, tangannya terasa hangat sekali. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya bekerja lebih cepat setelah menggenggam tangan Sasuke. Ada apa ini? Batinnya. Segeralah dia melepas tangan Sasuke dengan akhiran suara Sasuke yang merintih kecil.
“Kau ini kenapa Sakura?” Sasuke memegang pergelangan tangannya yang sedikit sakit, ada sedikit bekas memar disana, tapi sepertinya bukan karena ditarik Sakura. Sakura mendelik. “Tidak apa-apa,” ucapnya disertai tawa kecil. Dia tambah aneh, pikir Sasuke. Tapi juga imut, lanjutnya. Tanpa sadar dia sudah berbicara berlebihan tentang kepolosan Sakura, ia pun menggeleng pelan.
“Eh Sasuke tanganmu merah.” Sakura meraih tangan Sasuke dengan halus, Sasuke dengan refleknya yang cepat segera menepis tangan Sakura. “Itu bukan urusanmu.” Teriak Sasuke, teriakkannya itu sukses membuat hati Sakura sedikit sakit. Dia kembali menunduk, ingin sekali menangis tapi dia tidak boleh menangis di depan Sasuke. Tidak boleh, gumamnya dalam hati. Walaupun hanya tiga kata itu sudah cukup menyakitkan baginya, baru kali ini Sasuke membentaknya dengan nada tinggi seperti itu.
“Sudahlah ini tidak apa-apa Sakura.” Sasuke mengusap kepala merah jambu milik Sakura, menyadari perubahan sikap Sakura yang menurutnya karena barusan ia bentak, bukankan insting-nya sangat tepat.
“Honto?” tanya Sakura, dijawab dengan anggukan serta senyum tipis dari wajah Sasuke. Maaf, aku belum bisa mengatakkannya Sakura.
.
~[Miki-Michi]~
.
Naruto terus memperhatikan sekeliling bandara dari balik kaca mobilnya, mencari sosok yang tengah ditunggunya sepuluh menit yang lalu. Dia menunggu di pintu depan bandara dengan gelisah, mengingat orang yang ia tunggu adalah orang yang tidak tau arah alias buta arah. “Jangan-jangan dia tersesat,” pikir Naruto. Ia menggeleng, menghilangkan rasa khawatir yang tiba-tiba menjalar. “Dia pasti baik-baik saja, diakan kuat seperti Sakura,” lanjutnya. Naruto keluar dari mobilnya. Menatap langit yang sudah mulai gelap dengan matahari yang sudah hilang separuhnya. Angin yang lumayan kencang meniup rambut jabrik kuningnya, membuatnya harus menutup mata menghindari debu yang terbang bersamaan dengan angin yang bertiup.
“Naruto-kun.” Naruto mengerjap-ngerjap mata sapphire-nya, berusaha melihat dengan jelas seseorang yang ada di depannya. “Eh, kau sudah sampai,” ujar Naruto setelah memastikan penglihatannya sudah tidak terhalang debu.
“Sudah sekitar 30 menit yang lalu.” Gadis itu tersenyum ke arah Naruto. “Kau datang lama sekali, aku sempat bosan di sini tau.” Dia memperlihatkan pandangan sebal, menggembungkan kedua pipi chabinya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Naruto menghela napas. “Tapi, untungnya aku dapat mainan baru,” katanya lagi.
Mainan baru.
Srettt. “Kau bermain-main lagi dengan kekuatanmu,” seru Naruto, mengagetkan gadis di depannya. Gadis itupun diam, tidak ingin berkomentar akan pertanyaan yang menjurus keteriakkan dari Naruto. “Dimana mereka sekarang?” tanya Naruto masih dengan nada yang sama.
“Me… me…reka ada di sana.” Gadis itu menunjuk sebuah tempat sepi dan juga gelap. “Tapi Naruto-kun mereka-” Sebelum perkataannya selesai Naruto malah terlebih dahulu menariknya ke tempat itu.
“Sebaiknya kita kesana.” Ujar Naruto.
---
~[‘TBC’]~
---

Read More......

Wednesday, October 5, 2011

Kelembutan dari hati yang dingin

Musim dingin…
Bulan dimana semua berubah menjadi putih
Putih karena butiran-butiran kristal salju
Yang turun beriringan dan jatuh di permukaanMusim dingin…
Bulan dimana semua berubah menjadi putih
Putih karena butiran-butiran kristal salju
Yang turun beriringan dan jatuh di permukaan
Bukankah indah
Bentuknya yang lembuh dan penuh air
Menggodaku untuk membentuknya atau sekedar memegangnya
Menjadi bentuk-bentuk aneh
Yang terkadang membuatku tersenyum

Tapi berbeda, berbeda denganmu
Kau bukanlah musim dingin itu
Kedinginanmu bukanlah sebuah kelembutan
Kelembutan yang selalu aku rasakan dulu
Sekarang, kedinginanmu bagaikan benteng baja
Benteng yang tak bisa aku tembus dengan serangan apapun
Benteng kesedihan, benteng itulah yang kau pakai sekarang
Entah kapan aku bisa menembusnya
Mendapatkan kelembutan dinginnya hatimu kembali

Hi minna, kali ini Miki nge-posting hal gaje kembali, entah judulnya nyambung apa enggak Miki cuma pengen nge-posting ini. Terinspirasi dari iklan dan pair yang Miki suka... Jadi gomen kalo jelek

Read More......

Tuesday, September 27, 2011

~"PERMINTAAN"~

Ingatan...
Tentang kau dan permintaanku

Sebuah note kecil
Yang ku bawa ke padang
Dengan pohon rindang di tengahnya [puisi aneh]Ingatan...
Tentang kau dan permintaanku

Sebuah note kecil
Yang ku bawa ke padang
Dengan pohon rindang di tengahnya

Kau menunggu
Duduk bersandar di pohon dengan senyum mengembang

Berlari, aku berlari menuju kearahmu
Menghampirimu, dan duduk di sampingmu
“Bisakah kau memainkannya,” pintaku

Kau menangguk, tersenyum.
Lalu mengambil gitar tuamu
Dan mulai bernyanyi riang
Bersamaku…

Gitar tua itu,
Kau petik lembut
Dengan jemari panjang milikmu

Semakin lama
Suaramu dan petikan gitar tua itu
Mengecil dan semakin kecil

Tak terdengar,
Sama sekali tak terdengar
Hanya semilir angin
Membawa daun kering
Yang terdengar samar di telinga

Menyadarkanku
Akan kau yang hilang

Aku tersenyum lembut
Memandang sendu langit biru di depanku
Seraya berkata, “Bisakan kau kembali.”

Read More......

Friday, September 23, 2011

Manga blushing


Nama : Uchiha Hikari
Umur : Terserah kalian mau umur berapa, saya maunya 16 tahun *Dilempar.
Status : -Berpacaran dengan ....
Gender : Fem.

 *Nunjuk atas* Itu gambar abal buatan Miki, sebenernya lagi iseng pas buat. Itu Miki buat pas jam pelajaran kosong a.k.a nggak ada guru, tugas juga nggak ada. Ya udah Miki corat-coret aja tuh buku campuran di bagian belakang. Nggak nyangka bakal jadi, padahal dalam hati nggak akan jadi.

Gomen, gomen kalo gambar  gaje ini nggak muasin atau merusak mata para blogger. ^^

Read More......

Tuesday, July 26, 2011

Manga nyontek google

 Gambar atas adalah gambar sebenarnya yang Miki ambil dari Google image.


Dan yang ini adalah gambar buatan Miki, maaf kalau jelek n nggak mirip sama aslinya, masih belajar. XD XD

Read More......

Friday, July 22, 2011

First Love (Chap 2)


Pagi, seperti biasa aku melakukan kegiatan pagiku, karena hari ini ada pelajaran musik, aku di perintahakan membawa alat musik yang di sukai. Aku membawa gitar kesayanganku yang warnanya coklat ke hitam-hitaman dan terdapat banyak sekali stiker. Sesampainya di sekolah terlihat sudah banyak siswa yang datang dan aku juga melihat sekumpulan anak perempuan yang sedang membicarakan sesuatu. Aku bertanya-tanya apakah yang sudah terjadi. Karena penasaran, akhirnya aku bertanya kepada salah satu sahabatku Sheili yang saat itu sedang makan roti yang biasanya dia bawa dari rumah. “Apa yang mereka bicarakan.” Tanyaku. “Oh, mereka sedang membicarakan tentang Aldi.” Katanya. Aku hanya mengangguk tanda mengerti, karena memang Sheili merupakan anak penguping pembicaraan, walaupun yang dia dengar bukanlah teman kelasnya.
Teeeettt….Teeeetttt. Bel sekolah berbunyi. Kami segera menuju ruang musik yang berada di samping ruang komputer. “Pagi, anak-anak.” Ucap guru musik tersebut. “Pagi, Pak.” Jawab kami serempak. “Kalian siap untuk belajar musik.” Katanya dengan rasa bangga. “Siap.”Jawab semua murid di ruanganku. “Oke, siapkan alat musik kalian, berkelompoklah sesuai jenis alat musik masing-masing.” Setelah di perintah oleh Pak Hendrawan, semua berkelompok sesuai alat musiknya. “ Baik, Bapak akan tunjuk seseorang untuk maju kedepan.”  “Emmmm…… kau Ita.” Perintahnya. “Saya pak.” Kataku dengan gugup. Guru itu pun menangguk. “Ayo maju kedepan, dan bawa gitarmu itu.” Katanya lagi. “Baik pak.” Dengan rasa gugup dan hati yang berdebar-debar aku maju ke depan. Dia memerintahkan untuk menyanyi lagu yang aku bisa, dan ini pengalaman pertamaku bernyanyi di depan umum saat SMA. Aku membawakan lagu 4 Real yang dinyanyikan oleh Avril lavigne, dia adalah penyanyi yang  sangat aku sukai selain Demi Lovato, lagu-lagu mereka sangat enak didengar dan suaranya lembut, aku kagum pada mereka. Ku petik gitarku untuk mengawali lagu itu. “If I show you,Get to know you…….” Dan semua temanku terpaku pada saat aku bernyanyi dan pada saat aku memetik gitar dengan jari-jemariku. Padahal menurutku aku bukanlah orang yang pandai menyanyi maupun bermain gitar. Tapi memang gitar itu adalah sebuah hobby yang mutlak dijalankan. Aku bisa menenangkan diri pada saat aku sedang sedih, marah dan senang. Dan hobiku itu ternyata membuat orang gembira. Sesekali saat aku sedang bernyanyi aku melirik ke arah teman-teman yang sedang menontonku. Dan aku menemukan seseorang melihatku dengan tatapan yang sangat tajam, dia adalah Aldi. Dalam hati aku berkata kenapa dia melihatku seperti itu???. Selesailah aku bernyanyi, anak-anak lain pun banyak yang di perintahan untuk maju ke depan. Pada saat Aldi menyanyi, semuanya  terpaku menatapnya, seperti pada saat aku bernyanyi, karena memang dia adalah penyanyi yang cukup terkenal, aku tau itu (Author aneh, di timpuk pake sandal). Pelajaran musik pun sudah selesai tapi aku dan Aldi diperintahkan untuk bertemu guru musik itu selesai pulang sekolah, aku kembali bertanya kenapa aku dan Aldi di panggil ke ruangannya, kenapa bukan orang lain saja, kenapa harus aku dengan Aldi orang sok cool itu. Pelajaran kedua pun dimulai, tapi aku tidak terlalu memperhatikan. Aku masih saja memikirkan tentang hal yang tadi. Sampai bunyi bel sekolah pun berbunyi tiga kali. Teeetttt…Teeettt….Teeettttt. Hah sudah bel, aduh. Hatiku gusar tidak karuan dan akhirnya kuputuskan untuk menemui guru itu.
Aku pun mengetuk pintu kantor guru. “Selamat siang.” Ucapku dengan gugup.  “Siang, ayo masuk, mana Aldi, Ita.” Jawab guru musik itu. “Saya tidak tau pak.” Kataku lagi, walaupun sebenarnya aku tau Aldi itu dimana. “Ya sudah, nanti sampaikan saja ya, pada Aldi.” Ucapnya sambil melontarkan senyum. “Baik, pak.” Jawabku. Guru itu pun menjelaskan semua padaku “Berhubung akan ada lomba di SMAN 1 Global Java.” Dia berhenti sambil menghela nafas sebentar. “Bapak perintahkan kau dan Aldi untuk ikut lomba nyanyi di sana.” Kata guru itu menambahkan. “Tapi pak, sa…..” “Sudahlah kau coba dulu, kau mau kan.” Potongnya tanpa menghiraukan apa yang akan aku katakan.
Benar apa yang ada di pikiranku, pasti aku di perintahkan untuk ikut lomba, karena pada saat aku di SD dulu, aku punya pengalaman yang tidak mengenakan untuk di ingat (Nggak ada yang tanya). Saat aku duduk di kelas 5 SD, Aku diikutkan lomba menyanyi antar distrik. Dan pada saat aku tampil di atas panggung aku tidak bisa bernyanyi, aku melihat banyak orang yang menatapku dengan sangat tajam, dan saat aku melihat mereka badanku terasa gemetar, bibirku tidak bisa terbuka, suaraku pun terasa tidak bisa berbunyi. Dan sebab itulah aku tidak mau ikut lagi lomba seperti itu, karena aku tidak percaya diri. Dan Aku juga tidak mau jika harus bersama dengan Si cowok freezer . Saat aku berpikir, tiba-tiba guru itu mengagetkanku. “Ita, kau kok malah melamun.” Kata guru itu sambil menepuk bahuku. “Ehm,,, tidak apa Pak saya hanya bingung.” Jawabku dengan rasa takut. “Kok bingung.” Katanya dengan perasaan bingung juga. “Ya sudahlah, tidak usah di pikirkan. Tadi bapak tanya apa?” Tambahku. “Tadi bapak nanya kau mau ikut lomba apa tidak.” Tanyanya lagi dengan rasa cemas. Pada saat aku melihat wajah guru itu, aku merasa dia ingin sekali aku ikut, tapi aku merasa tidak bisa untuk melakukannya. “Ya saya akan coba.” Jawabku. Sebenarnya aku tidak mau tapi aku merasa kasihan dengan guru itu. “Terima kasih ya, karena kau sudah mau ikut lomba ini, tunggu di sini. Bapak akan ambilkan sesuatu untukmu.” Katanya dengan senang. “Iya Pak.” Jawabku. Tidak lama kemudian, guru itu pun kembali dengan membawa kertas yang berisi lagu-lagu yang sudah ada not dan kunci gitar di dalamnya. Lagu itu  judulnya The gift Of a Friend -Demi Lovato. “Terimalah ini, hafalkan. Dan yang ini buat Aldi, kita mulai latian hari senin besok, pada jam pulang sekolah, saya tunggu di ruang musik ya.” katanya lagi.
Aku pun pergi meninggalkan guru itu, dan menuju ke ruang kelas. Disana aku menemui Aldi yang sedang asik bermain dengan anak laki-laki lainnya mereka tertawa-tawa tidak jelas. Aku pun  menghampirinya. “Hey Aldi, ini kertas untukmu, dan besok senin, sepulang sekolah kau di tunggu oleh Pak Hendrawan di ruang musik.” Kataku dengan menunjukan sebuah kertas yang berisi lagu yang berbeda denganku,dengan malasnya. “Hn, terima kasih.” Katanya. “Ya, sama-sama.” Dengan cuek. Aku meninggalkannya, dan menuju ke bangkuku, aku mengambil tasku dan pergi ke gerbang sekolah. Hari ini aku janji akan pergi kerumah Nidya bersama Sheili untuk mengerjakan PR IPA.
Hari senin pun tiba. Aku berangkat menuju sekolah, pukul enam pagi. Sesampainya di kelas, keadaannya masih sepi tapi aku mendengar suara orang menyanyi, dan aku menghampirinya, karena aku sangat penasaran. Aku sangat terkejut saat aku melihatnya. Dia anak laki-laki yang sedang memegang gitar dan di depannya sebuah lagu, yang sepertinya sangat aku kenali. Dia adalah Aldi. “Apa yang sedang kau lakukan.” Sapa mengagetkanku. “Ahmmm,, tidak… aku tidak apa-apa, hanya ingin memeriksa saja.” Ucapku salting setelah melihat pandangannya yang tidak berubah, setiap kali melihatku. “Oh, kau ikut nyanyi juga kan.” Katanya. “Iya, tapi sebenernya aku tidak mau.” “Memangnya kenapa.” “Tidak apa-apa. Ah… kau kan bukan siapa-siapaku, apa urusanmu, apa pedulimu. Ah… ngapain aku ngomong yang tidak berguna kaya gini, nggak bakal kamu dengerin ya kan?” Kataku sambil menuju bangkuku yang masih kosong setelah pembicaraan yang menyebalkan itu berakhir. Dia meneruskan memetik gitar yang dia bawa itu. Pada saat pelajaran berlangsung aku sangat fokus dengan apa yang sedang di bicarakan oleh guruku, sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba Aldi menghampiriku, aku bingung kenapa dia menghampiriku. “It, It Aldi menuju kesini.” Bisik teman sebangkuku dengan girang. “Trus.” Kataku menjawab dengan sinis. Sebelum temanku menjawab, Aldi sudah ada di depanku. “Nih, tadi jatuh.” Kata Aldi dengan tampang sok cool. “Makasih.” Aku mengambil sapu tangan dari tangan Aldi dengan kasar. Aldi pergi meninggalkanku dengan menenteng tasnya yang berwarna hitam menuju ke ruang musik. Dalam hati aku berkata Apaan sih tu Aldi, sok cool banget sih. Tiba-tiba temanku memukulku. “Kau kenapa sih, ah!” Tanyaku. “Ah, aku kira dia mau menemuiku, ternyata malah ke kamu.” Katanya dengan geram. “Kok malah marahnya ke aku, ke dia dong, aku kan tidak salah apa-apa.” Aku menatapnya tajam. “Ya maaf.” “Ya sudah deh jangan ganggu aku lagi, aku lagi males banget nih bad mood, gak usah buat gara-gara deh sama aku.” Dia pun mengangguk, serasa ingin menangis, karena memang dia anak yang cengengnya minta ampun. “Ya sudah, jangan marah gitu dong.” Aku membuang muka padanya, lalu melesat pergi meninggalkannya.
Tak lama kemudian, aku pun memutuskan untuk menemui Pak Hendrawan. Aku mengetuk pintu dengan perasaan takut. “Siang.” “Siang.” Ku lihat Aldi sudah berada disana. “Eh, kok baru datang.” Tanya Pak Hendrawan padaku. “Maaf Pak, tadi ada pekerjaan sedikit.” Jawabku. “Ya sudah tidak apa-apa. Duduklah disitu.” “Baik pak”. “Ya sudah, kita mulai lagi latihannya ya.” Kami berdua mengangguk. Malamnya, aku menganbil kalender yang ada di atas meja belajarku yang lumanyan berantakan, dan ku lihat besok ada apa. Dan ternyata besok adalah hari ulangtahunku. Dalam hati aku bertanya Siapa, ya yang pertama ngucapin aku selamat, ya? Selesai melihat kalender aku mengambil gitar dan bernyanyi lagu yang di berikan oleh Pak Hendrawan padaku, yang memang aku sudah hafal. Sekitar pukul 22.00 mataku terasa ingin menutup sendiri, dan kuputuskan untuk tidur.  Tepat jam 00.01, aku di kejutkan oleh suara nada dering yang menyatakan bahwa ada pesan masuk, aku segera bangun dan mengambil ponselku yang ku letakkan di meja kecil yang ada disamping tempat tidurku itu, kubuka pesan itu “Klik.” yang bertuliskan “Happy birthday, semoga panjang umur, lebih dewasa.” Tapi nomor yang telah mengirim pesan ini tidak aku kenal dan kenapa si pengirim ngucapin “Sapa nih?” Ya tapi aku senang ada anak yang sudah ngucapin aku Selamat ultah. Dan setelah pesan itu aku baca ada sms lain yang ditujukan kepadaku. Isi semua pesan itu adalah selamat ultah untukku. Setelah itu aku pun tidur kembali. 

.
>TBC<
.

Read More......